Minggu, 06 Agustus 2017

Tak Sempat Menggenap


Pahlawanku
Aku tidak bisa menulis dengan baik, tapi izinkan aku berbagi kata. Terima kasih ya kawan-kawan yang sabar. Aku semogakan kawan-kawan yang sabar hatinya selalu Allah mudahkan langkahnya pada jalan-jalan kebaikan yang diridhoiNya.

Hidup ini jangan kau habiskan dengan pilihan-pilihan menyusahkan.
-Menyusahkan kehidupan akhiratmu- misalnya.

Terima kasih pada "peristiwa" yang tayangannya ada disetiap episode perjalanan hidup, menemukan peristiwa berarti siap menggali kode dariNya. 

Seperti peristiwa kematian.

Katanya setiap saat dalam kehidupan dunia ini ada nyawa yang melayang tak terhitung. 
Berarti akan tiba suatu waktu nyawa dalam jiwaku pun melayang.

Katanya setiap yang merasakan kematian itu rasanya menyakitkan sekali.
Berarti akan tiba suatu waktu diriku akan merasakan rasa menyakitkan itu.

Katanya sakaratul maut itu berakhir dengan Su'ul Khotimah dan Husnul Khotimah.
Berarti akan tiba suatu waktu diriku memilih akhir kehidupan dengan yang su'ul atau khusnul.

Wahai jiwa yang masih diberi kesempatan, pantaskah masih melalai? sedangkan kematian sedang mengikutimu. Siapa tau ia sedang duduk memerhatikanmu dari jarak sekian senti tapi kamu malah sedang mendengarkan musik yang tak diridhoi, melihat tulisan yang tak diridhoi, mengatakan hal-hal yang tak diridhoi?

Hey.. jiwa yang masih diberi kesempatan!
kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Masih kah kamu kurang bersyukur atas nikmat hidup ini? 
Didetik ketika penglihatan dan pendengaran bekerjasama menghasilkan suara istighfar dengan suara keybord yang tak seirama. Tidak seirama karena gerakannya terus bertafakur. "Aku kurang bersyukur ya Rabb".

Hari ini ahad, meski rutinitas berbelanja ke pasar manglayang tak sempat aku agendakan lagi. Bagiku hariku Allah taburi kebaikan. Full kebaikan. Full seharian. Selalu. Alhamdulillah.

Alhamdulillah hari ini masih Allah beri nikmat bernafas gratis dan wifi yang tidak gratis. hehe

Lagi lagi kematian.

Dalam kemacetan yang tidak pernah tidak. Aku merenungi peristiwa beberapa hari terakhir. Yang malam ini coba aku bagi dalam sebuah tulisan aneh ini. Mulai dari seorang mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terlintas bus, uwa nya seorang kawan yang meninggal, meninggalnya seorang ulama  hingga dokter terkenal hingga masih hangat kabar dari kota Subang, tadi pagi meninggalnya suami teman ibuku yang Allah uji dengan sakit yang diderita sekitar 10 tahun lamanya. 

Bukan hal yang kebetulan Allah melibatkanku pada hadirnya dipemakaman mahasiswi uin yang viral di media sosial atas takdir kematiannya itu. Sebelumnya kami tak pernah bertemu waktu almarhumah masih hidup. Waktu kejadian kecelakaan terjadi aku sedang asyik menelpon ibu dan sempat kaget tapi ya sudah, keesokan harinya dengan proses yang tiba-tiba sekitar jam nanggung maksudnya pagi engga siang pun belum, Siti Shohebah Mahar Rizkiyah, S.H (Calon). Dia menghubungi dan memintaku untuk takziyah, aku ragu karena memang sudah ada janji pergi Jabar Book Fair dengan Teh Mifta Ardianti, S.T (Calon). Makam nya itu melewati jalan Gatot Subroto, dua kali lewat jaln ini ketika ikutan berbondong-bondong ke Masjid TSB untuk ngaji ke Ust. Hanan Attaki. Setibanya disana beberapa teman yang aku kenal baik seperti Neneng Nanda Sobariyah. S.H (calon) dan Ade Irma. S.H (calon) juga hadir pada pemakaman yang ramai sekali itu. Maka serangkaian takdir itu membawaku ke pemakaman padat sempit jalan setapakpun, membuat kami yang ingin mengucap perpisahan dan do'a terpaksa agak menginjak pemakaman yang lain. (Hatiku seperti menasihati dan dan tempat itu membuatku hening memuhasabahi diriku " ya Rabb, aku tak sanggup dengan takdir kematian yang dialami temanku ini, semoga proses sakaratul maut sampai proses perjalanan kuburmu selamat. Sisanya aku diam, tak banyak mau bertanya dan berkata-kata, cukup penglihatan atas gundukan tanah berlapis keramik-karamik kuburan itu menjadi jawaban "aku akan menyusul, lalu sampai kapan aku masih lengah dan lalai?" "apakah aku akan merapat dengan golongan penuh penyesalan setelah mulut ini tersumbat tanah atau kah merapat pada golongan yang segera menyadari dan cepat bertaubat atas semua lengah dan lalai dengan semua kesempatan ini?"

Lalu takdir melihat status whatsapp kawan yang berisi foto keranda yang sedang dibopong beberapa bapak-bapak, tergerak hatiku berucap duka dan bertanya "siapa kang yang meninggal?" beliau kang, S.Hum (calon) menjawab "uwa teh". Menyusul banyak pemberitaan tentang seorang dokter tampan lagi penuh prestasi yang menggemparkan tanah air kabar dukanya. Lalu tadi pagi suami teman ibu meninggal setelah berjuang sepuluh tahun melawan penyakitnya yang aku tak tau persis sakit apa yang beliau derita. 
Rangkaian peristiwa ini mengingatkan ku pada tahun 2015.  Peristiwa kematian yang proses nya tak pernah aku saksikan dan jasadnya tak pernah berkesempatan bersentuhan dengan jasadku lagi selain cium tangan malam itu. Serah terima kendaraan bapak, malam terakhir aku merasakan rasanya memeluk pinggangnya, mengobrol dengan nya, tertawa dengannya. Sudah takdir. 
Bulan Agustus terakhir dalam hidupku bertemu dengannya, dan sisa Bulan Agustus dalam hidupku akan aku lewati dengan mengenangmu. Terima kasih bapak, Kematianmu menasihatiku bahwa aku akan juga melewati proses kematian itu. Aku masih hidup dan aku akan berusaha dengan seluruh kesempatan yang Allah berikan agar Allah ridha mempertemukan dan manyatukan kami lagi sebagi anak dan bapak di JannahNya.



Kematian. Tegur aku.

Bismillah do'akan bapak, minimal al-fatihah untuk Alm. Bapak Suryo subiyantoro Bin Boentar Sardjono.

Catatan : Semoga dapat mengambil kebaikan dari tulisan ini, tolong ingatkan ya kekeliruannya.
Nurul Hifni Hayatunnufus, S. Sos (Calon)😆😆😆😆😆😆😆😆





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hiruplah Hidayah!

Foto Kegiatan Pekanan Muslimah LDM Sudah jarang aku membuka media sosial bernama Facebook. Barusan seperti di gerakan jari jari i...