Untuk sebuah rindu pada bapak yang tak bisa disampaikan melalui telpon atau sms, hanya do'a yang dapat aku kirimkan semoga sampai, dan aku pastikan akan terus berusaha menjadi anak shalihah sebagai amal baik yang tak pernah terputus untukmu. Aku akan merindukan semua tentangmu sambil melanjutkan kebiasaan baikmu.
Tiba-tiba aku menjadi mengingat semua hal yang terjadi pada 18 Agustus 2015, percakapan di facebook dengan teman tadi sore meninggalkan perenungan yang cukup menggoyahkan hingga air mata ini tumpah, hanya sesak sejenak lalu merenungi semua yang sudah berlalu dan kini menjadi "Episode yang Terlewat", cukup banyak aku menyesal sampai hari ini, tak bisa melaksanakan tugasku pada bapak didetik-detik terakhir hidupnya, kini dan seterusnya seharusnya aku bisa memaksimalkan bakti terbaikku untuk ibu, membuat ibu bahagia menikmati hari senjanya, selalu disampingnya dalam kondisi apapun, memahaminya dengan segala kesulitannya, dan hal-hal baik lainnya yang bisa aku ikhtirkan untuk membuatnya menjadi ibu terbaik dimata Allah. Semoga Allah mampukanku.
Flashback, Beberapa tahun kebelakang biasanya selama aku sedang berada di Bandung, selain ibu tentu saja bapak yang sering menanyai kabarku. Beda dari keduanya adalah ibu yang selalu telpon lama dan sms sangat panjang tak terhingga 😁 sedangkan bapak dengan sms singkatnya misal: "Rul lagi kuliah ya?", "kegiatan luar kampus harus imbang sama kuliahmu", "bapak lagi nyari beasiswa buat kamu", atau telpon nya yang tidak lebih dari 1 menit "kamu sehat?". Dan berlangsung sering dan memang sedikit-sedikit tapi amat kurindukan. Itulah episode-episode dalam hidupku yang sudah terlewat, aku hanya ingin mengenang sambil bersyukur karena bapak membuatku faham arti sebuah kehilangan yang nyata dan harapan-harapan tentang bersama kembali di jannahNya benar-benar terasa besar membara semangat itu. Anak sulungmu yang sangat mencintaimu. Nurul Hifni Hayatunnufus.
![]() |
| Kebun Teh di Subang |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar